Humas-FH-USU: Siallagan- Hari terakhir Summer Course 2026 FH USU, peserta summer course yang berasal dari berbagai negara, seperti Nigeria, Malaysia, Myanmar, Kamboja, China, Pakistan, dan Yaman, berkunjung ke Desa Siallagan. Kunjungan ini merupakan bagian dari edukasi interaktif bagi peserta summer course, Kamis, 22 Oktober 2026.



Dalam kunjungan edukatif ini, peserta summer course berupaya menanamkan budaya tradisional lokal Siallagan Batak. Peserta begitu antusias dalam kegiatan kali ini. Mereka belajar budaya Batak, alat musik Batak, dan lain sebagainya. Pembelajaran budaya dalam summer course ini sejalan dengan poin penting yang ada dalam Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs 3, 4, 11, 13, 16, 17.

Dalam kunjungan edukatif ini, para peserta Summer Course 2026 FH USU diperkenalkan pada kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Batak di Situs Budaya Siallagan. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari mempelajari sejarah dan nilai-nilai adat Batak, mengenal alat musik tradisional, hingga memahami berbagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran interaktif yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih dekat identitas budaya masyarakat setempat sekaligus memperluas wawasan mengenai keberagaman budaya Indonesia.



Pembelajaran budaya lokal dalam rangkaian Summer Course 2026 juga dimulai sejalan dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, SDGs 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan, SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim, SDGs 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, serta SDGs 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Melalui kegiatan ini, Hukum USU berupaya mendorong pendidikan Fakultas Hukum yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian warisan budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan. Dengan demikian, kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan lintas budaya serta membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Kunjungan ini dihadiri oleh Wakil Dekan III Fakultas Hukum USU, Bapak Dr. Mohammad Ekaputra, S.H.,M.Hum, Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum USU, Dr. Rosmalinda, S..HLLM., Sekretaris Prodi Ilmu Hukum , Bapak Boy Laksamana, S.H.,M.Hum.Beserta jajaran dosen Fakultas Hukum USU dan tim panitia. Hadir juga bapak Taufik Lubis, S.H.,M.H. yang merupakan dosen pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Asst. Prof. Dr. Afridah Bt. Abas merupakan asisten Professor pada International Islamic University Malaysia (IIUM). Tidak lupa juga di sini hadir alumni Fakultas Hukum USU, Dr. Manguni Wiria Dharma Sinulingga, S.H.,M.H., serta beberapa pihak terkait lainnya.
Peserta summer course sangat antusias mengikuti penjelasan dari pengelola situs budaya di Siallagan ini. Tentunya kegiatan edukasi harus selalu ditanamkan dalam menjaga peradaban sosial yang berkelanjutan.



Selain memperkenalkan kekayaan budaya lokal, kunjungan ke Situs Budaya Siallagan juga menjadi sarana lintas budaya yang mempertemukan peserta pembelajaran dari berbagai negara dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Batak. Melalui penjelasan langsung dari pengelola situs, peserta memperoleh pemahaman mengenai sejarah, tradisi, alat musik tradisional, serta nilai-nilai sosial yang hidup dan berkembang dalam masyarakat setempat. Interaksi ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta mengenai pentingnya menghargai keberagaman budaya, memperkuat toleransi antarbangsa serta membangun kesadaran bersama untuk melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas dan peradaban manusia. Selain itu, peserta summer course 2026 juga diajak mengunjungi objek wisata penuh sejarah, yakni “Batu Gantung”.
Batu Gantung adalah legenda rakyat asal Sumatera Utara yang mengisahkan seorang gadis bernama Seruni (atau Duma) yang terjebak atau melompat dari tebing Danau Toba akibat perjodohan paksa. Formasi batu unik menyerupai wanita menggantung ini terletak di dekat Kota Parapat. Tentu, nilai yang patut disampaikan kepada para peserta summer course 2026 ini adalah nilai konsistensi dan prinsip yang teguh. Sehingga mengharapkan para peserta diharapkan siap sedia dan konsisten dalam menghadapi tantangan global. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Hukum Fakultas USU dalam mengintegrasikan pendidikan hukum dengan pemahaman sosial, budaya, dan pembangunan berkelanjutan. Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, SDGs 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim, SDGs 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, serta SDGs 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, kunjungan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi peserta terhadap pelestarian warisan budaya dan lingkungan. Melalui rangkaian kegiatan Summer Course 2026, Fakultas Hukum USU tidak hanya mendorong pertukaran pengetahuan akademik di tingkat internasional, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai lokal Indonesia sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan Summer Course 2026 di Langsa, Aceh Tamiang, dan Parapat, rombongan kembali ke Kota Medan. Semoga kegiatan Summer Course 2026 FH USU ini memberi dampak yang positif bagi semua pihak.